Kemarin
ada temanku yang tanya, “eh, ternyatata kamu suka bola juga ya, sejak kapan?”.
Pikirku, apa aku ini gak kelihatan wajah-wajah bola ya?.
Memang
gak salah sih temenku bilang begitu. Karena, Aku itu suka bola. Tapi tidak bisa
main bola, nah loh. Jadi, pantes saja kalau temanku bilang seperti itu, karena
selama ini aku memang tidak pernah kelihatan menendang bola. Kenapa bisa
begitu, begini ceritanya.
Dulu,
waktu aku aku kecil, aku suka sekali main bola. Gak peduli panas, hujan, jalan
becek, gak ada ojek sekalipun. Hingga saking asyiknya sampai lupa waktu makan.
Mulai dari pulang sekolah sampai menjelang sore. Apalagi kalau hujan turun,
hmm, sampai lupa mandi dah. Yaiyalaah.
Aku
main bola mulai dari main biasa sampai main yang rada ekstrim. Namanya“sekit-sekitan”
(ed. Madura, apa ya bahasa indonesianya). Kalau biasanya bola diarahkan ke gawang,
tapi dalam permaian ini bola diarahkan kepada pemainnya sendiri. Tak ada gol. Juga
tak ada kawan maupun lawan. Terserah siapa mau “menyeket” siapa. Yang penting
dapet bola. Siapa yang ada di depan, langsung diseket dengan bola. Kalau bisa
sekeras-kerasnya.
Awalnya,
kita sebagai anak-anak, kita asyik-asyik saja dengan permainan ini. Tapi itu
berubah ketika ada salah satu teman yang sakit karena permainan ini. Ada anak
yang rada besar, menyeket anak yang kecil, tepat di kepalanya. Hingga anak itu
pulang, menangis. Sampai dirumah, anak itu lapor ke bapaknya. Si Bapak yang gak
terima anaknya diperlakuin kayak gitu, datang mencari anak tadi ke tempat kami
main, tapi anak yang dicari sudah kabur sejak tadi.
Karena
tak menemukan anak yang dicari, dia membubarkan paksa permainan kami, dengan cara merampas bola dan membelahnya
dengan pisau. Belum puas disitu, dia melaporkan kejadian ini kepada orang tua
kami masing-masing. Praktis, di rumah aku dimarahi sama bapak dan dilarang main
bola lagi. Selamanya. Kalau sampai ketahuan main bola lagi. Bakalan dipatahin
tuh aku punya kaki. Alasannya sih , bagaimana nanti kalau aku jatuh, bagaimana
nanti kalau kayak anak kecil tadi, bagaimana nanti kalau kakiku patah kena
tackling temen. Daripada patah karena orang lain, mending dipatahin sama bapak
sendiri. Aah bapak terlalu over, padahal bukan aku yang menyeket anak itu.
Tapi
sebagai seorang anak, aku manut saja dengan “perintah” bapak. Sejak saat itu,
aku tak pernah lagi main bola. Hingga saat ini. Yah, hitung-hitung jadi anak
yang berbakti sama orang tua.
Dan sekarang, aku sudah
tidak ingat lagi bagaimana caranya menendang bola. Tapi kecintaanku terhadap
bola masih tetep ada, cuman sekarang, statusku berubah dari pemain inti menjadi
pemain cadangan, atau bahkan anak gawang. Atau tidak, aku ini sekarang
menjadi...pengamat sepakbola. Keren kan... haha.
Salam respect,
Roni Cool
25 Februari 2014
Salam respect,
Roni Cool
25 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar